Monday, 9 May 2016

Pintu Nurani


Siang yang begitu terik
Sesosok tubuh renta jatuh tepat di kakiku
Suara hujaman terdengar jelas dari jarak yang cukup dekat
Memaki, menindas, membuat pedih setiap hati yang mendengar
Air matanya membasahi seluruh wajah
Sayup-sayup kudengar ia berkata “Saya hanya ingin makan”

Sakit Jiwa

Tak ada lagi yang istimewa semenjak hari itu. Pesan singkat yang dikirimkannya cukup membuatku uring-uringan. Tak ingin makan. Tak ingin minum. Tak ingin bermain. Bahkan segan untuk mencicipi air di kamar mandi. Aku hanya ingin diam di depan televisi, melihatnya bersanding dengan gadis pilihan Ibunya.

Marley

Tak biasanya ia tak menungguku. Ia sangat hapal jadwal kepulanganku dari kampus. Tak mungkin ia lupa. Aku menunggunya selama kurang lebih 10 menit di pinggir jalan itu, berharap ia akan muncul seketika. Namun batang hidungnya tak kunjung terlihat. Seketika rasa cemas menghampiriku. Kau dimana? Kenapa tidak menungguku? Apa terjadi sesuatu denganmu? Ah, tidak mungkin, barangkali sedang mencari makan, ini kan sudah waktunya makan siang” Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.