Monday, 9 May 2016

Sakit Jiwa

Tak ada lagi yang istimewa semenjak hari itu. Pesan singkat yang dikirimkannya cukup membuatku uring-uringan. Tak ingin makan. Tak ingin minum. Tak ingin bermain. Bahkan segan untuk mencicipi air di kamar mandi. Aku hanya ingin diam di depan televisi, melihatnya bersanding dengan gadis pilihan Ibunya.


“Bukankah Gilang sedang menjalin hubungan dengan Ratih, kenapa tiba-tiba Gilang mengajak gadis lain sebagai pasangan?
“Maaf saya tidak bisa ceritakan sekarang”
“Apakah benar Gilang sudah dijodohkan sejak kecil?”
“Dimana Ratih sekarang? Kenapa tidak hadir di acara prom night? Gilang dan Ratih satu sekolah kan?”
 “Maaf acaranya sudah mulai. Nanti kita bicarakan di konferensi pers saja ya bersama Ratih”
Apa? Konferensi Pers? Jangan harap Gilang. Aku tak akan kesana.
“Gimana keadaan Ratih, Dok?”
“Fisiknya lemah. Tiap hari dia hanya menonton televisi demi melihat Gilang”
“Awas kamu Gilang. Gara-gara kamu anak saya jadi masuk Rumah Sakit Jiwa”


No comments:

Post a Comment