Monday, 9 May 2016

Pintu Nurani


Siang yang begitu terik
Sesosok tubuh renta jatuh tepat di kakiku
Suara hujaman terdengar jelas dari jarak yang cukup dekat
Memaki, menindas, membuat pedih setiap hati yang mendengar
Air matanya membasahi seluruh wajah
Sayup-sayup kudengar ia berkata “Saya hanya ingin makan”


Sebuah kereta mewah meluncur dengan indahnya
Seorang paduka bersama permaisurinya keluar
Berjalan tegap tak menoleh sedikit pun
Seakan kami hanyalah seonggok debu
Penuh rasa hormat sang kurcaci disana menyambutnya
Menundukkan badan hingga hampir ia terjatuh
Senyum menang ditunjukkannya
Harta karun tlah ia dapatkan

Seorang yang lain melewati sudut jalan
Berharap membantu nyatanya menjauh
Entah apa yang terpikir dalam benak mereka?
Dimana kini hati nurani itu berada?
Mengapa sedikitpun tak ada pintu hati yang terketuk?
Ataukah ketukan itu kurang keras?
Mestikah melonglong tajam bak seorang anjing?
Memberi tanda bahwa ada duka disini

Wahai anak manusia
Sesungguhnya tak ada yang lebih indah dari hidup saling mengasihi
Buka kedua mata
Lihatlah dunia yang indah

Andai kita saling peduli

No comments:

Post a Comment