Monday, 9 May 2016

Marley

Tak biasanya ia tak menungguku. Ia sangat hapal jadwal kepulanganku dari kampus. Tak mungkin ia lupa. Aku menunggunya selama kurang lebih 10 menit di pinggir jalan itu, berharap ia akan muncul seketika. Namun batang hidungnya tak kunjung terlihat. Seketika rasa cemas menghampiriku. Kau dimana? Kenapa tidak menungguku? Apa terjadi sesuatu denganmu? Ah, tidak mungkin, barangkali sedang mencari makan, ini kan sudah waktunya makan siang” Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan.





“Hel, makan malam yuk”
“Maaf ya Rel. Aku udah makan jam 6 tadi. Soalnya lapar banget”
“Emang kamu habis ngerjain apa? Tumben jam segitu udah makan malam”
“Habis jogging di kampus sama Marley. Oh ya, dia udah makin jago aja loh Rel main basketnya”
“Coba kalau aku yang ngajakin kamu jogging, pasti kamu nolak mentah-mentah. Yang kamu pengen belajarlah, pengen tidurlah, pengen inilah, pengen itulah. Kamu cuma sayang sama Marley. Sedikit pun waktu untukku nggak ada, padahal aku pacar kamu”
“Rel, bukan gitu. Marley udah nemenin aku dari kecil. Aku sayang banget sama dia dan aku juga sayang sama kamu”
“Udahlah, aku bosen kamu belakangin terus. Sekarang kamu pilih ! Aku atau Marley?”
“Aku nggak bisa Rel”
“Pilih !”
“Aku pilih Marley. Maaf Rel”
“OK. Selamat tinggal, silahkan habisin hidup kamu sama si Marley busuk itu”

                                                                        ***

“Mbak, kok masih disini? Bukannya udah pulang dari tadi ya?”
“Saya nunggu Marley. Nggak biasanya dia nggak nunggu saya pulang. Bapak tahu Marley dimana?”
“Owh. Tadi siang dia ditabrak motor Mbak”
“Ketabrak? Serius Pak? Tapi dia baik-baik aja kan?”
“Anjing Mbak lansung mati di tempat”
“Astaga, Marleyku. Trus sekarang bangkainya dimana Pak?”
“Saya nggak tahu Mbak. Tadi langsung dibawa sama orang yang nabrak”
“Siapa Pak? Bapak kenal nggak orangnya?”
“Bapak kurang yakin sih, tapi wajahnya mirip sama cowok yang sering ngunjungin Mbak”

“Astaga, Karel!!”

No comments:

Post a Comment