Wednesday, 2 December 2015

Era 90-an


Pagi ini saya mau bersyukur lagi kepada Tuhan, sudah mengirimkan saya di rahim seorang ibu yang baik di era 90-an, era dimana segala sesuatunya masih berjalan indah. Bila dibandingkan dengan sekarang, era dahulu tentu lebih baik. Secara teknologi memang, era dahulu kalah, tapi itu tak akan jadi tolak ukur terbaik bahwa kehidupan dulu tidak menyenangkan. Tidak sama sekali. Era dahulu jauh lebih hebat menurut saya, hebat dari segi kerjasama antar individu (zaman dulu tidak ada smartphone yang membuat sebagian orang hanya bisa menunduk saja), hebat dari segi musik dan sinetronnya, but no untuk film-film yang diisi oleh Eva, Inneke, dkk (cari tahu sendiri kenapa), hebat dari sisi permainan anaknya, dan hebat dari sisi jalan-jalannya, masih sepi dan lapang, tidak berhimpitan seperti sekarang ini. Dahulu, orang-orang suka berjalan kaki, sedangkan sekarang, rasa gengsi telah mengalahkan segalanya. Tiap satu mobil yang kadang hanya diisi oleh satu orang memenuhi ruas jalan. Ah. Betapa sumpeknya negaraku.


Untungnya, kesukaan berjalan kaki saat masih kecil masih berjalan sampai sekarang. Selain menguntungkan kantong, jalan kaki tentu menyehatkan, selama betis besar tidak menimbulkan penyakit. Sering saya temukan, pengendara motor sekarang berjalan tidak pada tempatnya, seperti di trotoar. Beberapa kali saya coba untuk tetap berjalan di trotoar, tidak peduli dengan rentetan klakson yang diberikan agar saya segera minggir. Loh, kenapa? Ini kan trotoar. Saya pejalan kaki. Saya berhak berjalan di jalur yang telah disediakan untuk saya dan pejalan kaki lainnya. Egoisnya orang zaman sekarang memang sudah tidak terbendung lagi.

Sering saya berselancar di google, demi bernostalgia dengan masa dahulu. Bangunan-bangunannya, kesederhanaannya (mungkin hanya orang-orang desa yang masih memegang erat yang satu ini), kecintaannya dengan alam dan lingkungan, kehidupan yang erat dengan seni dan budaya. Semuanya itu enak, lezat, sedap, pokoknya cadas. Hal-hal dulu membuat saya kagum sekaligus bersyukur, saya tidak lahir di era gadget yang melanda anak-anak, yang membuat mereka berkacamata di usia dini. 

Beruntungnya anak-anak dulu yang hidup dengan gobak sodor, permainan benteng, petak umpet, bermain masak-masakan dengan modal pecahan batu bata berwarna oranye sebagai bumbu, tukar-menukar biodata di orgie untuk anak perempuan supaya semakin kenal satu sama lain, bermain tepuk tajoz, mengumpulkan hadiah tajoz tentang negara-negara di dunia dari satu bungkus mie remes merk ABC, pistol bambu, jam tangan dari kertas buku, pesawat terbang kertas, perahu kertas, topeng kertas, aneka permainan kreativitas dari kertas, dan sebagainya.

Remaja dulu juga tentu sangat senang dengan berbagai pilihan lagu yang tersedia. Sebagai anak yang tumbuh di tahun 2004, saya bersyukur pernah mengenal AFI, sehingga saya tahu lagu-lagu romansa yang terkenal di masa dahulu. Karena AFI-lah, saya jadi tahu Ari Lasso, Chrisye, Yana Yulio, Hedi Yunus, Glenn Fredly, Rio Febrian, Kahitna, Jikustik, Kla Project, Baim, Ruth Sahanaya, Vina Panduwinata, Reza Artamevia, Sheila Majid, Siti Nurhaliza, Audy, Memes, Potret, dan Krakatau. Sebagian besar penyanyi-penyanyi ini sudah jarang mengeluarkan album lagi, bahkan Chrisye sudah berpulang ke Rumah Tuhan. Lagu-lagu sekarang? Huh. Suka latah. Melayu, Boy Band, dan Girl Band, itulah yang meng-Indonesia sekarang. Pokoknya beda. Remaja-remaja dulu, kakak-kakak saya benar-benar beruntung.

Ah. Andai bisa memutar waktu. Kembali ke zaman dulu dan hidup disana saja. Saya ingin disana, hidup di era dulu, era 90-an.

No comments:

Post a Comment