Saturday, 10 October 2015

Penerapan IQ, EQ, dan SQ dalam Dunia Pendidikan


Semenjak dimulainya era milenium di tahun 2000, teknologi dan informasi semakin marak berkembang. Kemunculan berbagai alat teknologi yang mempermudah pekerjaan manusia menjadi bukti bahwa semakin hari semakin banyak orang-orang cerdas di muka bumi. 


Tak ayal masyarakat pun mulai memunculkan paradigma mengenai jenis kecerdasan seseorang. Mereka yang cerdas dikatakan memiliki IQ yang tinggi dan selalu dipuji-puji, sementara mereka yang terbilang tidak terlalu cerdas dikatakan memiliki IQ jongkok atau rendah sehingga sering direndahkan. Sebenarnya apa itu IQ dan apa fungsinya bagi manusia?

IQ, EQ, SQ via larawilson.com


IQ merupakan istilah pengelompokan kecerdasan manusia yang pertama kali diperkenalkan oleh Alferd Binet, ahli psikologi dari Perancis pada awal abad ke 20. Kecerdasan intelektual ini sangat erat kaitannya dengan kemampuan menalar, merencanakan sesuatu, memecahkan masalah, belajar, memahami gagasan, berpikir, dan menggunakan bahasa. Selama ini masyarakat telah dibutakan oleh IQ dan menganggap IQ sebagai satu-satunya tolak ukur keberhasilan manusia. Padahal disamping IQ, masih ada EQ dan SQ yang tidak kalah pentingnya untuk diperhatikan.

Menurut Daniel Golemen, kontribusi IQ bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20% dan 80% sisanya ditentukan oleh Kecerdasan Emosional atau EQ. EQ adalah kemampuan memperoleh informasi melalui suara hati. Mereka yang memiliki EQ yang baik beranggapan bahwa informasi tidak hanya didapatkan dengan kelima panca indera saja, tetapi juga dengan mendengar suara hati. Umumnya orang-orang seperti ini mampu bertanggung jawab terhadap pekerjaan, mudah bersosialisasi, teguh pada komitmen, dan mampu membuat keputusan yang manusiawi.

Jenis kecerdasan terakhir yang juga penting untuk dimiliki ialah kecerdasan spiritual atau SQ. Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, kecerdasan spiritual membantu seseorang untuk mencapai kebahagiannya dengan kepercayaan diri yang dimiliki. Mereka yang memiliki SQ tinggi mampu berpikir positif terhadap masalah yang ditemui. Dengan berpikir positif, mereka akan mampu melakukan tindakan yang sama positifnya.

Di dalam dunia pendidikan, penerapan ketiga kecerdasan ini dapat dilihat dari lingkungan mahasiswa. Mahasiswa yang memiliki IQ tinggi akan lebih mudah menangkap dan memahami materi yang diberikan dosen, mampu mendalami bahasa-bahasa asing, piawai dalam berbicara di depan umum, dan tentu selalu mendapatkan IP di atas 3. Beda halnya dengan mahasiswa dengan IQ normal bahkan rendah. Mereka cenderung sulit memahami penjelasan dosen sehingga harus bekerja keras untuk mampu memahami materi yang diberikan agar saat ujian mereka bisa mendapatkan nilai minimal B. Akan tetapi seringkali mahasiswa dengan IQ tinggi dijauhi oleh rekan-rekannya. Mereka cenderung sombong karena merasa lebih unggul sehingga sulit bersosialisasi. Tidak jarang mereka yang seperti ini dijuluki “Si Pelit Ilmu”. Hal ini menunjukkan bahwa mereka memiliki EQ rendah. Di lain tempat, seorang mahasiswa memiliki IQ dan EQ yang tinggi, namun SQ yang dimiliki rendah. Ketika ia mendapatkan masalah, seperti skripsi yang tidak juga selesai karena terus-menerus revisi, ia akan putus asa dan pada akhirnya melakukan tindakan yang tidak seharusnya seperti bunuh diri, seakan masalah tersebut tidak dapat diselesaikan.


Mengacu pada contoh diatas, dapat dikatakan bahwa penerapan salah satu kecerdasan tidaklah cukup. Antara IQ, EQ, dan SQ harus memiliki proporsi yang seimbang dan saling bersinergi. Dengan demikian, seseorang akan memiliki kekuatan jasmani dan rohani yang sama kuatnya dan berguna bagi lingkungan sekitar terutama Tuhan.



*Pernah diikutsertakan dalam seleksi beasiswa Data Print tahun 2013, namun gagal.  

No comments:

Post a Comment