Saturday, 19 September 2015

Silent Love



Aku melihatmu disana. Di tengah ribuan orang yang tengah antre, aku bisa melihat dirimu yang cemerlang di antara yang lain. Radarku yang hebat selalu menerima sinyal keberadaanmu hanya dari senyum tulusmu, sebuah isyarat bahwa kau sedang berbahagia. Aku tahu orang-orang selalu menganggapku gila kala melihatmu tersenyum dari jauh, walau kutahu senyum itu bukan untukku. Ini tahun keempatku melihatmu di kampus ini, namun aku tak yakin kau tahu namaku.


Namamu telah kuketahui sejak kulihat kau berjalan sendiri di koridor kampus. Disaat para mahasiswa baru berjuang untuk membentuk geng, kau malah memilih untuk menyepi dan bermain sendiri. Waktu berlalu hingga kau temukan pojokan perpus sebagai tempat favoritmu. Gerak angin yang ringan menyapu wajahmu, kau bisa menghirup udara yang begitu segarnya dengan bebas tanpa beban sedikitpun. Momen berharga ini tak pernah lewat untuk kuabadikan. Maaf jika aku hanya bisa menggapaimu sebatas foto yang selalu kucetak dan kupajang di dinding kamarku, hal rutin yang kulakukan selain berdoa, mengisi perut, kuliah, dan berpelukan dengan bantal.

Jika kau menekan tombol klik pada followed by di halaman Facebookmu, kau pasti menemukanku.  Kaulah gadis pertama yang kutambahkan sebagai teman diluar teman-teman satu jurusanku. Akulah orang yang selalu bahagia bila melihat statusmu muncul di deretan paling atas berandaku, lalu tanpa sadar bergumam bahwa kau adalah jodohku. Sikapmu yang kritis tercermin dari setiap kata yang kau ketik pada status Facebookmu, membuatku selalu ingin tahu apa yang sebenarnya kau cari dalam hidup ini. Kuharap kau tak risih saat membuka notification dan melihat namaku selalu ada di deretan orang yang menyukai statusmu. Kuharap kau tak berpikir bahwa aku hanya seorang likers yang menggemari bidang suka-menyuka status facebook orang lain, karena sungguh aku tidak seperti itu. Kuharap kau tidak berpikir bahwa aku berusaha mencari perhatianmu, karena aku benar-benar menyukai setiap kata yang tertulis disana.

Aku tak berusaha mencari perhatianmu sekalipun aku ingin sekali kau tahu namaku. Terkadang aku merasa nyaman berada di belakang dengan hanya menatap punggungmu, namun sesekali aku pasti berusaha mengejar senyumanmu. Aku tidak ingin munafik, isi otakku hampir sama saja dengan otak laki-laki pada umumnya. Aku kagum dengan kecantikanmu, rambut hitammu yang bergelombang, bibirmu yang merah jambu, hidungmu yang mancung, dan mata sipitmu yang membuat wajah orientalmu semakin terlihat.

Ini tahun terakhir kita berada di kampus ini. Ya, aku berharap kita bisa lulus bersama di semester 8 depan nanti. Andai waktu bisa berjalan lebih panjang, aku ingin berganti status sebagai teman. Ya, menjadi teman saja rasanya sudah lebih dari cukup. Waktuku tinggal dua belas bulan lagi dan aku tak yakin bisa menjadi sahabatmu. Aku terlalu pesimis dengan keadaanku.

Hari ini perkuliahan sudah dimulai, namun kampus masih saja seperti kuburan. Seperti biasa aku mencarimu ke pojokan perpus dan kuharap kau ada disana. Harapanku terkabul. Kau ada disana, merentangkan kedua tanganmu dan membiarkan wajah serta rambutmu disapu oleh angin. Tak ada orang lain disana. Hanya ada kau dan aku di belakangmu. Lagi-lagi momen itu tak kulewatkan dan untuk pertama kalinya aku tak tahu harus berbuat apa. Kau menoleh saat aku mengabadikan momen itu. Seharusnya aku bersyukur karena kau tersenyum tepat saat aku mengambil potretmu, namun sayang senyum itu hanya bertahan untuk sebentar.

Aku takut saat perlahan kau berjalan menghampiriku dan aku tak mungkin mundur, kau bukanlah setan perempuan seperti yang ada di film-film horor. Kau adalah gadis manis dan aku tak perlu takut, kau tak mungkin menerkamku.

“Aku pengen ngelihat koleksi fotoku yang kamu ambil dari semester 1 sampai sekarang. Boleh nggak?” Suara lembut itu mengalir dari bibir mungilmu, membuat badanku keringat dingin tak tahu harus menjawab apa.
“Kenapa?Nggak boleh ya?” Lagi-lagi suara lembutmu mengalir keluar, namun aku tetap membiarkannya saja.
“Aku tahu kok kamu hampir selalu ada di belakang aku. Aku juga tahu kalau kamu sering nguntit aku ke pojokan perpus dan selalu sedih kalau aku nggak ada disana” Astaga kau tahu itu.
“Kamu ingat nggak satu hari sebelum libur kuliah, pas hujan-hujan kamu ke pojokan perpus. Pas tahu aku nggak ada disana, kamu loncat ke rumput dan ngebiarin badan kamu basah. Kamu juga teriak-teriak dengan bahasa yang buat aku nggak ngerti. Aku ada disana waktu itu. Aku sengaja nunggu kamu”


Aku benar-benar tidak tahu kalau kau ada disana saat itu. Memang saat itu aku mencarimu ke pojokan perpus karena aku ingin berkenalan denganmu, setelah sebelumnya aku menonton sebuah film yang membuatku mewek. Ada seorang laki-laki yang sangat mencintai seorang gadis di desanya. Selama tujuh tahun ia hanya memendam rasa terhadap gadis itu tanpa pernah mengungkapkannya. Sampai akhirnya tibalah saat gadis itu harus menikah dan dia tidak tahu sama sekali bahwa selama itu sang gadis telah dijodohkan. Sungguh miris nasib laki-laki itu. Rasa cintanya selama tujuh tahun terbuang sia-sia karena ia tak pernah mengungkapkannya. Tentu aku tidak mau memiliki nasib yang sama, maka itu aku mencarimu ke pojokan perpus sekalipun hari itu hujan turun dengan derasnya.

“Gimana? Aku boleh ngelihat foto-fotonya?” Pertanyaan itu tetap mengambang begitu saja tanpa ada satu jawaban pun yang kukeluarkan. Namun akhirnya aku pun mengajakmu ke rumahku. Kubiarkan kau memandang lekat satu per satu potret dirimu yang terpajang rapi di dinding kamarku. Decak kagum tersirat dari senyummu. Terbersit rasa bangga dalam diriku yang tlah membuatmu tersenyum. Kulihat kau mengeluarkan sebuah amplop lalu memberikannya padaku. Aku tak tahu apa isinya dan tak sempat bertanya, kau dengan cepat menghilang dari kamarku.

Dear Nico.
Aku tak pernah tahu pasti mengapa aku menyukai pojokan perpus. Yang aku tahu, angin dan ketenangan adalah sahabatku. Aku tak pernah tahu pasti mengapa aku lebih suka menyepi dan bermain sendiri. Yang aku tahu, aku tak pernah merasakan ketenteraman dan ketenangan di tengah sebuah keramaian. Aku tak pernah tahu mengapa kau selalu menguntitku dan mengabadikan setiap potret diriku lewat kameramu. Aku juga tak pernah tahu mengapa kau tak pernah menghampiriku dan selalu berjalan dibelakangku. Aku selalu merasa kesepian di pojokan perpus, namun rasa sepi itu hilang kala mataku mampu menangkapmu yang tiba-tiba berada jauh di belakangku dengan berpegangkan kamera. Aku sangat menikmati saat-saat dimana kau ada di belakangku dan selalu menunggu saat dimana kau mau menghampiriku. Aku ingin menjadi sahabatmu. Aku ingin berbagi cerita denganmu dan membicarakan suka, duka, mimpi, dan harapan yang kita miliki. Saat ini aku tetap menunggumu mau menghampiriku. Maukah kau menjadi sahabatku, Nico?

Aku cengeng. Ya, aku hanya laki-laki cengeng yang tak sanggup menahan air mata untuk keluar. Tak kusangka kau benar-benar memperhatikanku. Begitu bodohnya aku membuatmu menunggu selama tiga tahun. Suara petir menggelegar diluar, perlahan rintik hujan turun membasahi tanah. Tak peduli dengan sakit kepalaku yang selalu kambuh tiap terkena hujan. Aku hanya ingin menghampirimu saat ini.

Kulihat kau berjalan pelan di ujung lorong rumahku. Tak peduli dengan hujan yang semakin deras, kau tetap berjalan pelan. Langkahku semakin cepat. Untuk pertama kalinya aku berada tepat dibelakangmu dengan jarak yang sangat dekat. Kau menoleh saat itu juga dan menunjukkan senyum tulusmu. Kini aku tak mau berlama-lama lagi. Cinta bisu ini tak boleh lagi bisu.

“Aaaauuuuuu swuuuuukaaaaa kkkaaaamuuuuu. Aauuuu maaaauuu jaaadddii ssssaaahhhaaabbat kkkkaaamuuu”. Hatiku lega setelah mengucapkan kalimat yang sekalipun pendek terasa cukup sulit untuk kukeluarkan. Lagi-lagi kau menunjukkan senyum tulusmu, sebuah isyarat bahwa kau tengah berbahagia.
                                                   

Radarku tetap menyala saat kau tengah jauh dariku, namun frekuensinya tak lagi seintens dahulu, karena saat ini dan untuk selamanya kau bersedia menemaniku, pria bisu yang hanya mengerti satu bahasa yaitu perasaan. 


Source of image : blog.safemed.pt

No comments:

Post a Comment