Saturday, 22 August 2015

Pertama Kali Ke Jogjakarta

Perjalanan ke Jogja di Januari 2013 lalu memang termasuk dalam kategori kurang, karena saya hanya mengunjungi objek-objek wisata yang sudah populer. Maklum saja di tahun itu, saya baru mengenal apa itu nekat dan belum terlalu akrab dengan objek-objek perjalanan. Barulah, setelah pulang dari sana, saya tahu di Gunung Kidul ada Gunung Api Purba dan pantai-pantai indah. Selama ini, saya hanya mengenal Pantai Parangtritis. Itu pun hanya melihatnya lewat televisi dan buku. Saya belum mengenal Krakal dan Baron yang indah. Bahkan saya melewatkan Prambanan, karena kedua rekan saya ingin ke Borobudur. Tidak sia-sia sih, Borobudur juga elok. Senang sekali akhirnya bisa melihat  rupa Candi Buddha itu secara dekat. Sayangnya, ada banyak patung yang kepalanya sudah tunggang. Di sana-sini juga terlihat lumut. Tapi, candi itu tetap cantik. 

Selama di Jogja, kami hanya mendatangi Malioboro (Ini sih kunjungan wajib), Beringharjo, Taman Budaya, Taman Pintar, Vredeburg, Keraton, dan Alun-alun Utara. Kami lupa kalau Masangin itu adanya di Alun-alun Selatan. Ya Olloh. Lewat deh ~.~. But, no problemo. Lewat perjalanan perdana saya ini, saya belajar banyak. Belajar untuk bersyukur, karena di Jogja, masih banyak masyarakat yang miskin. Bayangin, tukang-tukang becak itu hanya minta Rp 5000 untuk jarak yang cukup jauh. Penjual souvenir di Borobudur cuma minta Rp 1000 untuk tiap souvenirnya yang menurut saya cantik banget dan itu pasti dibuat dari tangan sendiri kan? Kok bisa sih? Saya bener-bener terharu melihat keadaan disana. Oh ya, satu lagi. Berjalan bersama teman itu nggak selamanya enak. Sepanjang perjalanan, pasti akan ada silang pendapat. Itu sudah wajib hukumnya. Dan lewat perjalanan ini, saya belajar untuk menghargai pendapat rekan, musyawarah untuk mufakat, dan nggak egois. At least, saya bahagia sekali akhirnya bisa menginjakkan kaki di kota Jogja yang selama ini hanya bisa saya lihat di Buku IPS, majalah, dan televisi. 









No comments:

Post a Comment