Wednesday, 26 August 2015

Merayakan Perbedaan Sebagai Anugerah


Berbicara mengenai agama, tentunya semua tahu bahwa ada 5 agama yang diakui di Indonesia, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Buddha, dan Hindu. Ya, sejujurnya Indonesia sangatlah indah dengan keragaman itu, sayangnya masih banyak yang berpikir bahwa perbedaan itu tidaklah baik, hanya persamaan-lah yang akan membuat persatuan semakin erat.



“Pergi yok. Nggak usah main sama dia. Dia kan orang Kristen” begitulah sepenggal kalimat yang masih kuingat yang cukup membuatku menahan tangis. Kala itu aku tengah duduk di bangku Sekolah Dasar dan aku masih ingat siapa yang mengucapkannya. Seorang anak laki-laki yang umurnya sekitar empat tahun di bawahku.
Aku tidak habis pikir, mengapa harus ada beberapa pihak yang fanatik dengan agamanya. Beruntung aku memiliki orangtua yang memandang perbedaan sebagai anugerah. Sekalipun kami kaum Kristen menjadi kaum yang minoritas di Negeri ini, mereka tidak pernah mengajarkanku untuk membenci orang-orang di luar Kristen, karena mereka sendiri pun mengalami bagaimana indahnya berteman dengan teman yang berbeda agama dan sampai saat ini pun aku terus mengikuti jejak mereka, yaitu berteman dengan teman yang berbeda agama.

GeGanzz. Itulah nama geng kami, berisikan 9 gadis remaja yang sekarang tengah beranjak dewasa. Tuhan mempertemukan kami di SMP Xaverius 1, sebuah sekolah katolik yang berlandaskan iman pada Yesus namun memegang ajaran nasionalisme, dimana kami dididik untuk tidak hanya mengerti akan satu agama yang dianut saja tapi juga ajaran agama lain. Tidak hanya mengerti tapi juga menghargai.

Aku bersyukur bertemu dengan mereka di sekolah itu dan yang paling aku syukuri ialah kala melihat latar belakang kami yang berbeda-beda. Aku dan Deborah beragama Kristen, Maria beragama Katolik, Angel dan Cia beragama Buddha, Dyah, Siwiek, Ditha dan Thea beragama Islam. Empat agama yang berbeda tidak menjadi penghalang untuk kami bersahabat. Sedikit pun kami tidak pernah mempermasalahkan perbedaan agama yang ada di tengah-tengah kami. Saat Natal tiba, mereka mengucapkan Selamat Natal kepadaku, Deborah, dan Maria. Saat tiba Hari Raya Imlek, kami berkunjung ke rumah Cia dan Angel. Sama halnya saat Idul Fitri tiba, kami mengucapkan selamat idul fitri dan mengunjungi kediaman keempatnya, Dyah, Siwiek, Ditha, dan Thea.

Sebagaimana seorang sahabat, kami selalu bersama baik suka maupun duka. Apabila salah satu di antara kami ada yang memiliki masalah, tak jarang kami berkumpul bersama untuk dapat menyelesaikannya. Saat aku dirudung masalah keuangan, saat Angel dan Ditha harus kehilangan Ayah mereka, saat Deborah mendapati Ibunya mengalami pendarahan di kaki, saat Siwiek sedih karena Ayahnya yang sakit dan tidak bisa bekerja, dan saat yang lainnya juga tengah menghadapi masalah yang pelik, kami selalu bersama, sekalipun yang dapat kami lakukan hanyalah menangis bersama, namun aku merasa itu sudah cukup. Beban yang sebelumnya dipikul sendiri terasa ringan setelah dipikul bersama.

Selepas SMP, kami melanjutkan ke SMA yang berbeda-beda. Sedih rasanya karena kami harus terpencar, namun setiap kami tentunya memiliki pilihan dan kapasitas yang berbeda satu sama lain. Sekalipun telah jauh, tak jarang kami melakukan komunikasi dan kembali bertemu untuk melepas rindu. Ada begitu banyak perubahan tentunya yang dialami kala SMA dan aku bisa melihat itu semua dari fisik dan tingkah laku mereka, namun ada satu hal yang tidak pernah berubah dari dalam diri kami, yaitu rasa sayang yang kami miliki sejak Tuhan mempertemukan kami di SMP. Aku yakin bahwa tidak ada yang kebetulan yang terjadi di dunia ini, termasuk ketika kami bertemu dan menjadi satu sekalipun perbedaan agama hadir di tengah-tengah kami.

Ada banyak hal yang tak terlupakan dari mereka. Kenangan selama dua tahun bersama terkadang membuatku sedih kala mengingatnya. Masa-masa ceria yang dulu selalu tergambar di kepalaku. Memang tak jarang kami berselisih paham, namun sekali lagi aku katakan, itu semua bukan karena agama. Aku meyakini bahwa perbedaan pendapat ialah hal yang biasa. Anggap saja itu sebagai bumbu penyedap yang membuat persahabatan lebih memiliki rasa. Tingkat kematangan akan terbentuk dan kedewasaan seseorang akan terlihat dalam menghadapi masalah. Jika sudah berada di saat-saat seperti ini yang bisa dilakukan hanyalah mengalah dan semua akan selesai dengan indah.

Tidak terasa sudah empat tahun lamanya kami tidak berjumpa, kami kembali terpencar saat melanjutkan kuliah. Sungguh aku merindukan mereka. Aku merindukan saat-saat kami bersama. Aku merindukan saat-saat kami merayakan ulang tahun, saat-saat kami merayakan Natal, Idul Fitri, dan Imlek. Terkhusus saat Imlek, saat kami bersama-sama mengejar angpau dari setiap rumah yang kami kunjungi.

Kini jaraklah yang menjadi penghalang kami untuk bertemu. Tapi aku yakin sekalipun jauh, kami tetap saling mengingat masa-masa indah yang tlah lalu. Lagipula, setiap kami juga telah memiliki teman-teman baru di zona masing-masing yang membuat kami tidak pernah merasa kesepian.

Di masa SMA, aku tetap sama seperti di masa SMP. Vinny, Herti, dan Lutfiah. Ketiganya adalah gadis-gadis muslim yang baik dan aku menyebut mereka sebagai sahabat. Memang di SMA, ada komunitas kristen dan aku ikut aktif di dalamnya, namun aku merasa apalah artinya suatu ajaran kekristenan tentang kasih jika tidak di aplikasikan. Karena itulah, aku mengasihi mereka sekalipun mereka tidak seiman denganku.

Sama halnya dengan masa SMP dan masa SMA, di masa kuliah, aku juga bersahabat dengan seorang muslimah yang benar-benar taat, namanya Yuni. Ia mengenakan jilbab dan selalu berpakaian yang tertutup. Ia sangat taat dengan agamanya dan aku juga taat dengan agamaku. Ia aktif dalam organisasi muslim kampus dan aku aktif dalam persekutuan kampus.

Menjelang umurku yang ke-20, aku semakin merasakan bagaimana indahnya kasih Tuhan kepadaku. Aku bersyukur untuk para sahabat dan orang-orang yang Tuhan hadirkan di kehidupanku. Aku bersyukur untuk masa-masa boleh mengenal mereka, terkhusus para sahabat yang berbeda agama denganku.

Aku merayakan perbedaan sebagai sebuah anugerah yang harus disyukuri dan bertemu dengan kalian adalah anugerah yang indah yang pernah kumiliki sepanjang hidupku. Terimakasih untuk cinta kasih kalian sahabat. Terimakasih telah menjadi sahabat yang baik untukku. Aku berharap kisah persahabatan kita tak akan pernah lekang oleh waktu. Salam kasih untuk kalian gadis-gadis hebat.

Untukmu Angel, Deborah, Maria, Siwiek,Ditha, Dyah, Thea, Cia, Vinny, Herti, Lutfiah, dan Yuni.

*Tulisan tahun 2012 adalah non fiksi dan benar-benar diangkat dari kehidupan nyata saya.

No comments:

Post a Comment