Saturday, 22 August 2015

Mengenang AFI (Akademi Fantasi Indosiar)



Menuju puncak
Gemilang cahaya
Mengukir cita, seindah asa
Menuju puncak
Impian di hati
Bersatu janji , kawan sejati
Pasti berjaya
Di Akademi Fantasi

Siapa yang tidak kenal lagu di atas? Menuju Puncak, theme song dari sebuah ajang pencarian bakat bernyanyi Akademi Fantasi Indosiar yang pernah berjaya di tahun 2003 hingga 2005. 


Di tahun-tahun itu, animo masyarakat benar-benar besar terhadap acara satu ini. AFI menjadi pelopor terciptanya ajang pencarian bakat secara terbuka di Indonesia, yang kemudian diikuti oleh kemunculan Indonesian Idol, Indonesia Got Talent, Indonesia Mencari Bakat, X-Factor, Idola Cilik, dan Master Chef (ajang pencarian bakat memasak). Selama tiga musim berturut-turut, AFI mampu menarik perhatian jutaan penonton Indonesia untuk tak beranjak sedikit pun dari depan televisi demi menyaksikan penampilan para idola mereka. Eliminasi dan Koper merupakan salah satu ciri AFI. Akademia yang mendapatkan polling terrendah harus pulang dan tidak bisa melanjutkan perjuangan untuk menjadi juara. Kepulangan akademia tersebut ditandai dengan Koper yang harus mereka bawa saat menuruni panggung. Di saat-saat seperti ini, sebagian besar penonton pasti menangis. Mereka seakan mampu merasakan kesedihan yang dialami akademia yang pulang. Begitu juga dengan saya, air mata saya bercucuran banyak sekali saat Icha AFI 1 pulang, padahal malam itu ia menyanyikan lagu Keliru (Ruth Sahanaya) dengan sangat indah.

Bagi anak-anak seperti saya, yang lahir di tahun 90-an dan menapaki masa remaja di tahun 2000-an, AFI tidak sekedar ajang pencarian bakat, tapi juga menjadi salah satu inspirasi untuk berjuang mencapai mimpi, seperti para akademia yang berjuang menampilkan yang terbaik di atas panggung. Masih ingat Pitch Control? Dua kata yang di setiap konser selalu diulang-ulang oleh Trie Utami dan selalu sukses membuat penonton berteriak “Huuuuuuuuhhhhh”. Ah, saya benar-benar rindu AFI. Memori manis yang diciptakan AFI benar-benar sulit dihilangkan. Walaupun sebagian besar orang zaman sekarang berkata bahwa AFI tidak apa-apanya dibanding Indonesian Idol dan X-Factor, tapi saya tetap saja cinta AFI. Ada beberapa alasan mengapa saya lebih suka AFI. Pertama, lagu-lagu yang harus dibawakan oleh kontestan AFI telah dipilihkan. Jadi mau tidak mau, mereka harus belajar untuk bisa membawakan lagu tersebut di konser. Kedua, para kontestan AFI benar-benar “dikarantina” selama 3 bulan dan tidak boleh berkomunikasi dengan orang luar. Hanya sesekali saja pihak AFI memberikan mereka kesempatan untuk menelepon keluarga dengan durasi yang telah ditentukan. Ketiga, ada diari AFI. Jadi secara tidak langsung, penonton merasakan keterikatan karena mereka juga mengetahui aktivitas para akademia di balik panggung. Mungkin ini juga yang menyebabkan perpisahan atau acara eliminasi AFI selalu mengharukan, hampir seluruh penonton di studio meneteskan air mata, tidak terkecuali saya yang hanya menonton lewat layar kaca.

Di tahun 2007, AFI dihentikan untuk sementara, tanpa alasan yang tidak diketahui secara pasti, tetapi masyarakat berasumsi bahwa AFI ingin merefresh diri dulu, karena di AFI terakhir, animo masyarakat berkurang. Di tahun 2013, AFI kembali hadir dengan tampilan baru yaitu New AFI 2013. Theme Song Menuju Puncak yang tiba-tiba muncul di bulan Agustus tahun lalu di Indosiar membuat saya kembali bersemangat, sampai teman-teman mengira bahwa saya akan mengikuti audisi tersebut, padahal sama sekali tidak. Saya benar-benar merindukan AFI dan kemunculan New AFI 2013 sekiranya dapat menghapus rasa rindu saya pada kenangan 11 tahun silam. Jujur karena AFI, saya jadi tahu lagu-lagu pop 2000-an milik Kla Project, Base Jam, Jikustik, TIC, Tofu, Nugie, Chrisye, Rio Febrian, Glenn, Kahitna, Hedi Yunus, Vina Panduwinata, dan Ruth Sahanaya. Saya sangat suka mendengarkan lagu Andai Aku Bisa milik Chrisye dan saya masih ingat kali pertama saya mendengar lagu ini adalah saat konser AFI berlangsung. Sedikit mengutip kalimat dari Wikipedia, “AFI merupakan program pencarian bakat pertama di Indonesia yang saat ini rating Grand Finalnya belum bisa dikalahkan oleh program pencarian bakat manapun sekaligus menjadi pelopor ajang pencarian bakat di Indonesia”

Semoga saja AFI bisa kembali menuai kejayaan seperti semasa dulu.
Pasti berjaya di Akademi Fantasi.

*Tulisan tahun 2013





No comments:

Post a Comment