Thursday, 2 July 2015

Lovely Man: Tentang Ayah dan Putrinya


Lovely Man, film Indonesia yang rilis pada tahun 2011 karya Teddy Soeriaatmadja. Pertama kali melihat posternya, saya kira film ini adalah film Hollywood, apalagi dengan banyaknya tanda kurung pada poster yang menandakan bahwa film ini mendapatkan banyak penghargaan. Saat tahu Teddy Soeriaatmadja, saya semakin penasaran untuk melihat gambar-gambar artistik, sebagaimana Badai Pasti Berlalu dan Ruang yang menampilkan banyak gambar cantik yang seolah dapat berbicara. 

Lovely Man sendiri mengisahkan tentang Cahaya (Raihanun) yang ditinggal ayahnya, Saiful (Donny Damara) sejak kecil. Beranjak dewasa, Cahaya berangkat ke Jakarta untuk beretmu dengan ayahnya meski ia telah dilarang oleh ibunya. Meskipun begitu ia tetap nekat karena rasa penasarannya. Setibanya di ibukota Cahaya mendapati kenyataan yang tidak mudah dipahaminya. Lingkungan sekitar tempat tinggal ayahnya tidak ada yang mengenal Saiful. Mereka lebih mengenai Ipuy yang saat siang hari bekerja sebagai kuli bangunan, sementara saat malam bekerja di jembatan. Permasalahan timbul saat Cahaya bertemu dengan ayahnya yang ternyata berprofesi sebagai waria. Jadilah malam itu digunakan mereka untuk berdebat mengenai identitas masing-masing, alasan mengapa Saiful pergi, dan alasan Cahaya mencarinya. Meskipun ayahnya bersikap cuek, Cahaya tetap melontarkan semua pertanyaan yang terpendam di otak dan hatinya selama ini. Sampai akhirnya malam beranjak subuh dan pagi, Cahaya tidur di kasur ayahnya, sementara sang ayah membersihkan dirinya dari identitas waria-nya, kembali tampil sebagai ayah pada umumnya. Keesokan harinya Cahay pulang dengan diantar Saiful hingga ke stasiun. Selama perjalanan Cahaya hanya bisa menangis. Biar bagaimanapun, Saiful atau Ipuy tetaplah ayahnya. Ayah yang menjadi bagian dari masa kecilnya. Sebelum naik ke kereta, Saiful memberikan Cahaya uang Rp 30 juta sebagai pengganti kesalahannya. Kereta akan  berangkat. Cahaya pun beranjak meninggalkan ayah yang tak ingin ditinggalkannya. 

Lovely Man, tentang ayah dan putrinya. Sepanjang mengikuti film ini, ada banyak dialog yang menyentuh dan menginspirasi tanpa bersifat menggurui. Dua kutipan yang paling menyentuh menurut saya. 

"Bukan lalu berarti bapak akan jadi seperti kamu atau kamu jadi seperti bapak. Kamu adalah kamu"

"Kurang lebih hidup seperti itulah cahaya. Bukan lalu kita harus lari dan berteduh dari hujan. Tapi kita menikmati hujan itu"

Saya bukan kritikus film. Hanya seorang penikmat film yang tidak akan berkata banyak. Intinya, Lovely Man benar-benar Lovely





No comments:

Post a Comment