Thursday, 23 July 2015

Dapatkan Ketenangan Batin di Gua Maria Lourdes Sendangsono



Dipublikasikan di GabeBoni

Wilayah sekitar Jogja memiliki banyak kawasan religi bagi umat Nasrani. Salah satunya adalah Sendangsono yang menjadi tonggak berhasilnya misionaris Van Lith dalam menyebarkan agama Katolik di Jawa. Secara administratif, Sendangsono termasuk dalam wilayah Kabupaten Kulon Progo, DI Yogyakarta. Sendangsono dapat dicapai dari Kota Yogya dengan melewati Jalan Magelang sampai tiba di pertigaan Pasar Muntilan, selanjutnya berbelok ke arah kiri. Perjalanan ini memakan waktu satu jam perjalanan.

Memasuki pintu utama, wisatawan akan disambut oleh deretan lapak kecil yang berisi patung Bunda Maria berbagai ukuran, lilin-lilin putih, rosario berwarna-warni, aneka gelang berbandul salib, botol putih, dan jerigen berbagai ukuran berstiker Sang Perawan Suci, Bunda Maria. Dengan berbekal uang Rp 5000-Rp 15.000, jerigen akan berguna di lokasi Gua Maria. Sendangsono yang sarat dengan nilai religius memiliki sejarah panjang. 

Penyebutan Sendang dikarenakan lokasinya yang berada di sebuah sendang yang berarti mata air. Sementara Sono berarti pohon Sono. Dahulunya sendang yang berada di pohon sono ini merupakan tempat peristirahatan biksu yang akan menuju Boro. Awalnya sendang ini dikenal dengan Semagung, namun dalam perkembangannya sendang ini semakin dikenal dengan Sendangsono. Sebelumnya sendang ini dikenal sebagai lokasi keramat yang dijadikan pusat persemedian dan berkumpulnya roh-roh halus. Namun sejak tahun 1904 Romo Van Lith membaptis warga Kalibawang dengan air sendang, lokasi Sendangsono pun diubah menjadi tempat pembaptisan dan tempat untuk menyadarkan masyarakat agar tidak hidup dengan hal-hal mistis. Pada tanggal 8 Desember 1929, Romo J.B Prennthaler SJ menetapkan Sendangsono sebagai tempat peziarahan. Patung Bunda Maria di lokasi ini merupakan persembahan dari Ratu Spanyol. Dengan begiru susahnya, umat Kalibawang beramai-ramai mengangkat patung ini naik ke atas. Pada tahun 1945, Pemuda Katolik Indonesia berziarah ke Lourdes dan sepulangnya mereka membawa batu untuk ditanamkan tepat di bawah kaki Bunda Maria. Sejak saat itu, nama Sendansono pun berganti menjadi Gua Maria Lourdes Sendangsono.

Saat ini, anda tidak lagi bisa menemukan sendang yang menjadi saksi pembaptisan warga Kalibawang tersebut. Sendang suci yang selalu diberkati ini telah ditutup guna menjaga kebersihan dan kemurniannya. Namun anda tidak perlu khawatir karena air sendang tetap bisa anda dapatkan melalui keran pancuran. Air sendang suci ini dipercaya bisa membawa berkat, sehingga para peziarah sering terlihat membawa jerigen ataupun botol untuk menampung air sendang. Untuk mengenang peristiwa pembaptisan di tahun 1904, anda bisa memasuki kapel utama Sendangsono. Disana anda akan menemukan relief proses pembaptisan. Jika memasuki Kapel Para Rasul dan Kapel Bunda Maria, anda akan diingatkan pada 12 murid Yesus dan Bunda Maria. Di dekat Kapel Bunda Maria terdapat areal pemakaman. Salah satunya adalah makam Barnabas Sarikromo, salah satu warga yang menjadi penggerak komunitas Katolik Sendangsono sekaligus sahabat baik Pastur Van Lith yang ditetapkan sebagai katekis pertama di Sendangsono.

Bagi yang ingin mengenang kesengsaraan Kristus saat memanggul salib, bisa melakukan Jalan Salib pendek. Di setiap pemberhentian, anda bisa menyalakan lilin dan berdoa sambil mengingat setiap peristiwa penting yang dilalui Kristus hingga tiba di Bukit Golgota. Selain Jalan Salib, berdoa di Gua Maria juga bisa menjadi pilihan ibadah. Para pengunjung sering bersimpuh menyalakan lilin dan memanjatkan doa disini. Selain itu, anda juga bisa menuliskan curahan hati, ucapan syukur, ataupun permohonan pada secarik kertas kemudian memasukkannya ke dalam pot pembakaran surat. Perlu diketahui patung Bunda Maria ini didatangkan secara khusus dari Spanyol. 

Sendangsono sangat dikenal sebagai lokasi peziarahan yang memberikan ketenangan batin. Namun selain itu pengunjung juga bisa menikmati indahnya arsitektur kompleks Sendangsono yang dirancang Y.B. Mangunwijaya Pr dan mendapatkan Aga Khan Awards. Sambil bersantai di pendopo, anda bisa menikmati bangunan-bangunan yang didominasi oleh batu. Bisa juga dengan menikmati aliran sungai dengan berdiri di jembatan. Saat akan pulang, sempatkanlah untuk menampung air sendang dari keran-keran di sisi kanan sungai. Meminum air sendang diyakini dapat mendatangkan berkat dan membawa air sendang tentu akan membuat perenungan selama ibadah akan terasa lebih lengkap. Untuk berziarah di Sendansono, pengunjung tidak diwajibkan untuk membayar tiket masuk. Namun jika ingin memberikan persembahan, bisa langsung memasukkannya ke kotak-kotak yang disediakan di beberapa tempat di Sendangsono atau bisa juga menyerahkan langsung kepada pengelola Sendangsono.

No comments:

Post a Comment