Thursday, 6 June 2013

Nicholas Saputra Ingin Bekerja Sesuai Passion

Berikut ungkapan hati seorang Nicholas Saputra mengenai passion dalam wawancaranya dengan Tim Majalah Gadis.



Banyak yang menganggap bahwa Nicholas Saputra nggak mempergunakan ilmu kuliahnya di jurusan Arsitektur, Universitas Indonesia Depok dengan baik. Soalnya, kelahiran 24 Februari 1984 ini lebih fokus dengan akting di film. Menanggapi hal itu, pemilik nama panjang Nicholas Schubring Saputra ini punya alasan jelas!

“Menurut aku, orang itu bisa sukses jika bekerja sesuai passion,” ungkapnya. “Bekerja sesuai passion itu nggak selalu harus sesuai sama jurusan kuliah. Orang yang kuliah jurusan Hukum saja nggak harus jadi pengacara, karena masih banyak pekerjaan lain di bidang hukum. Begitu pula dengan yang jurusan Arsitektur. Nggak harus kerja jadi arsitek, kan? Contohnya, Rizal Mantovani juga yang kuliahnya mengambil jurusan Arsitektur, tapi menjadi sutradara. Erwin Gutawa juga kuliah jurusan Arsitektur, tapi dia jadi musisi.”

Meskipun pemeran Edo di film Tidak Bicara Cinta ini nggak memilih untuk jadi arsitek, bukan berarti Nico nggak suka dengan bidang asitektur. “Aku suka film dan arsitektur. Tapi, aku paling suka dengan film karena sudah berkecimpung di dalamnya sejak masih berusia 15 tahun, saat aku main di film Ada Apa dengan Cinta. Jadi, aku memutuskan untuk menjadi pemain film. Walaupun nggak menjadi arsitek, aku bisa menerapkan ilmunya di mana saja. Misalnya, ketika melihat pembuatan film, aku bisa melihat proses perancangannya seperti apa,” tukas cowok yang beradu akting dengan Ayushita di film Tidak Bicara Cinta ini.

Source : Gadis.co.id

Lentera Jiwa DJ Riri


DJ Riri bukan DJ biasa. Ia adalah guru, entrepeneur, & 100% music lover. 
Simak kisah lentera jiwanya berikut ini.

"LENTERA JIWA adalah PASSION. 
Hal yg sangat kita sukai. 
Suatu pekerjaan atau kegiatan yg menimbulkan kepuasan tersendiri bagi kita, meskipun seringkali menguras waktu dan tenaga. 
Itulah LENTERA JIWA kita. 
Apakah kamu sudah menemukan LENTERA JIWA-mu??"

Ade Rai

Tahukah anda, awalnya Ade Rai adalah seorang Atlit Bulu Tangkis, dia berteman dengan Ardi B. Wiranata salah seorang atlit nasional bulutangkis yang berprestasi. Ade Rai kala itu begitu heran dengan semangat Ardi yang setiap hari latihan bahkan hari minggu pun dia isi dengan latihan, sedangkan Ade rai tidak begitu bersemangat latihan apalagi mengisinya di hari libur. Apa yang membuat Ardi begitu bersemangat dengan olah raga Bulu Tangkis?
 
Jawabnya adalah karena Ardi B Wiranata punya passion terhadap olahraga bulu tangkis dan setiap kali berlatih impiannya adalah menjadi juara, seletih apapun, dia tetap akan berlatih, dan semua ini membuahkan prestasi yang gemilang bagi Ardi sebagai atlit bulu tangkis tingkat dunia. Sedangkan Ade Rai sendiri nggak enjoy dengan yang ia lakukan sehingga dia tidak bersemangat kalau disuruh latihan ekstra, Akhirnya setelah Ade Rai terjun ke olahraga binaraga, dia pun sangat bersemangat seperti Ardi BW di Bulutangkis karena Ade Rai menemukan passionnya di bidang Binaraga. Dan siapa yang tidak tau Ade Rai sekarang?

Dan kesuksesan seorang Ade Rai juga telah menghipnosis banyak orang untuk menggemari olah raga Fitnes, dulu pada tahun 1995 jika seorang ditawarkan untuk berinvestasi sebesar 100 Juta di bidang oleh raga fitnes, belum tentu ada orang yang mau, tapi sekarang dengan biaya puluhan milyar orang berebut untuk menamankan modalnya. Itulah Passion.


Jika yang anda lakukan tidak sesuai dengan passion anda maka akan terasa letiihhh sekali ketika bekerja akan sering timbul alasan bahwa anda tidak mampu melakukan yang terbaik untuk impian anda. Dengan melakukan pekerjaan yang sesuai dengan passion anda bukan berarti tidak akan ada halangan, namun halangan itu akan terasa lebih ringan karena anda mencintai hal yang anda lakukan.

Source : Stifin Banten

Joko Anwar Part II

It’s a long way from a teeming Medan kampong to making movies in Jakarta, a tough journey that took talent, determination and resolve, as well as a bit of good fortune. It is a story that is the stuff of movies, the hard-luck, almost incredible tale of a lonely little boy who set his mind to achieving his dreams.

Fate may have something to do with success, but self-belief also is a big part of the formula. If others doubted Joko’s talent, it seems that he was firmly convinced that, whatever it took, he would reach his goal. “I always finish what I start,” he says.

Joko was born in the North Sumatra capital to a Javanese father, who moved away from his hometown after a string of family tragedies. He was a becak driver; Joko’s mother had been married three times before.

They were a poor family and it was tough to make ends meet: When there was no rice in the house, they would go next door and “borrow” some from their neighbors. It was a crowded cluster of humanity where everybody kept a watchful eye on those around them.

“Something happened when I was small – my mother would go away for three or four days at a time. Well, we lived in a kampong, and everybody hated us, people started to gossip about us, about prostitution and stuff.”

He said other children would gather outside his home – “they looked like a choir standing there” – chanting “whore’s kid” when he went outside.

His only escape was the local movie theater, called the Remaja. Here he could pay Rp 100 for a Sunday showing of cinematic also-rans, from local occult films to low-budget slasher flicks from the U.S. and Europe.

As he got older, he would come home from watching a movie and rewrite it in his own words. The dog-eared notebooks, he said, are stacked somewhere in Medan. The films and their characters gave him an education in life, he adds.

He first dreamed of being an actor, but his brother told him he was not sufficiently good looking to be in front of the camera. “My mother kind of confirmed it for me by saying that I wasn’t bad looking either,” he jokes. Poverty, loneliness, social ostracism: It has all the makings of a three-hankie tear-jerker.

“But it’s not sad. I never thought my childhood was bad. I thought I had a lovely childhood. Even now, if I look back, all the pain and everything, it’s nice, it’s poetic.”

Most of his peers were in trouble by the time they were teenagers, he said.

Joko did his own thing, studying hard, watching videos whenever he could, writing plays and persuading his parents to let him become an exchange student to the United States.

Again, determination and some luck saved the day: Although his family only had a portion of the administration fee for the program, he was fortunate to be selected for a scholarship.

He had been a play-it-by-the-rules teen, a boy scout and die-hard supporter of president Soeharto (he was chosen to represent North Sumatra in the prestigious Paskibraka national flag-raising corps for Independence Day).

The trip to the U.S. was a revelation, with the myths of New Order Indonesia exposed as he pored over articles in the local library.

He returned to study aeronautics at the Bandung Institute of Technology. It seems like a strange choice, but it was one made out of necessity, because his family did not have the funds for him to enroll at the Jakarta Arts Institute.

Although Joko continued to devour movies at every opportunity, he balked at the entry requirements for the campus movie enthusiasts club (someone somewhere must be kicking themselves). He finished college and was accepted at the Post, another stepping stone in his plan to become a filmmaker.

“I thought that if I became a journalist, I could find a way to be an entertainment reporter and meet filmmakers, and then BS my way into the industry.”

Instead, he was stuck on the new reporter’s beats of the city and national police headquarters. Frustrated by the routine, he went freelance after 10 months, starting his regular Now Showing/Still Playing columns and occasionally contributing profiles about members of the film community.


Inilah bukti dari passion itu.
Joko Anwar tidak pernah mengenyam pendidikan di Sekolah Film, namun karena passion, ia berhasil menjadi sineas ternama di Indonesia yang menghasilkan banyak film berkualitas.
Passion membuatnya berhasil menangkap apa yang ia ingin, sekalipun proses yang dilewati cukup panjang, bermula dari ITB Teknik Penerbangan, bergabung di The Jakarta Post hingga menjadi kritikus film dan bertemu dengan Nia Dinata, seorang produser film yang pada akhirnya mengajaknya bergabung di Proyek Film Arisan.

Joko Anwar


Joko Anwar lahir pada tanggal 3 Januari 1976 di sebuah kawasan perkampungan miskin di Medan, Sumatera Utaradi mana tumbuh besar dengan menonton film-film kung fu dan horror. Sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama, dia juga telah menulis dan menyutradarai pertunjukan drama. Joko kemudian kuliah di Institut Teknologi Bandung untuk belajar Teknik Penerbangan karena orang tuanya tidak sanggup menyekolahkannya ke Sekolah Film.  Setelah lulus kuliah pada tahun 1999, ia kemudian menjadi wartawan di The Jakarta Post  sebelum kemudian menjadi seorang kritikus film.

Pertemuannya dengan Nia Dinata saat masih menjadi kritikus film membuatnya tergabung dalam proyek film Arisan di tahun 2003. Film tersebut mendapat sukses yang luar biasa baik secara komersial maupun pujian dari para kritikus dan memenangkan beberapa penghargaan di dalam dan luar negeri termasuk "Film Terbaik" di Festival Film Indonesia pada tahun 2004 and "Best Movie" di MTV Indonesia Movie Awards pada tahun 2004
Joko lalu menyutradarai film pertamanya, sebuah komedi romantis berjudul Janji Joni (Joni's Promise) (2005), yang dia tulis saat dia masih duduk di bangku kuliah pada tahun 1998. Film yang dibintangi oleh Nicholas Saputra dan Mariana Renata ini merupakan salah satu peraih box office terbesar pada tahun itu dan memenangkan "Best Movie" di MTV Indonesia Movie Awards tahun 2005. 

Pada tahun 2007, Joko Anwar menulis dan menyutradarai Kala, yang disebut-sebut sebagai film noir pertama dari Indonesia yang mendapat pujian dari para kritikus internasional. Majalah film terkemuka dari Inggris, Sight & Sound, memilih film ini sebagai salah satu film terbaik di tahun itu dan juga menamakan Joko sebagai "salah satu sutradara tercerdas di Asia".

Selain menulis skenario untuk disutradarainya sendiri, Joko Anwar juga menulis skenario untuk sutradara lain, termasuk film komedi Quickie Express yang memenangkan "Best Film" di Jakarta International Film Festival pada tahun 2008 dan Jakarta Undercover. Dua film tersebut juga sukses secara komersial. Joko juga menulis skenario film Fiksi yang mendapat pujian dari para kritikus internasional dan memenangkan banyak penghargaan, antara lain "Film Terbaik" dan "Skenario Terbaik" di Festival Film Indonesia 2008.

Film Joko Anwar selanjutnya adalah Pintu Terlarang yang dirilis pada tahun 2009. Film ini adalah sebuah film thriller psikologis yang juga mendapat pujian dari para kritikus. Kritikus Richard Corliss dari majalah TIME menulis, "Cerdas sekaligus sakit, film ini bisa jadi kartu panggilan buat Joko Anwar sebagai sutradara kelas dunia, kalau saja para petinggi Hollywood menginginkan sesuatu yang lain dari produk mereka yang itu-itu saja". 

Jika diperhatikan, karya-karya dari sutradara dan penulis skenario Joko Anwar selalu berbeda-beda genre, tidak pernah selalu sama. Diakui oleh Joko Anwar, dia tidak berusaha agar filmnya tampil unik. Tapi melainkan dia berusaha membuat film yang dia punya interest di sana. Baginya membuat film sudah menjadi mimpinya sejak ia kecil. Dan saat sekarang sudah tercapai, tak ada yang ingin ia buktikan. Baginya membuat film harus jujur.


Source : Wikipedia, Telios.TV

Clara Ng

Clara Regina Juliana. Penulis berbintang Leo. Lahir di Jakarta tahun 1973. Merupakan lulusan  Ohio State University, Amerika Serikat, jurusan Interpersonal Comunication. Dahulu tidak pernah bercita-cita menjadi penulis, namun kini karya-karyanya mengalir tanpa henti.

Dia tak pernah ikut sekolah menulis. Di Ohio State University, tempat Clara menimba ilmu, dia belajar di jurusan Interpersonal And Organizational Communication. Ia juga studi soal linguistik. Menjadi penulis, ucap Clara, adalah soal kebetulan. 

Mulanya, ia hanyalah seorang pekerja kantoran di bagian sumber daya manusia di sebuah perusahaan shipping Korea. Sekitar tahun 2000, ia menjalani fase baru dalam hidupnya. Menjadi penulis. Sebelumnya ia tak pernah bercita-cita menjadi penulis. Ia bahkan tak pernah membayangkan seperti apa profesi penulis itu. Namun, proses menuju ke titik itu sama sekali tidak singkat. Sejak kecil, Clara memang sudah memiliki ketertarikan membaca, beranjak dewasa ia mulai mempelajari sastra Indonesia. Saat kuliah, ia juga tergabung dalam sebuah klub pembuat cerita fun fiction. Ia meniti jembatan ini untuk mengasah keterampilan menulis.
 
Clara percaya bahwa ada orang-orang yang memang memiliki bakat menulis. Namun, jika tidak dilatih, itu tidak akan matang. "Tanpa latihan terus menerus, tanpa dorongan, tanpa obsesi yang berlebihan terhadap menulis, bakat itu tidak akan tumbuh dan hidup," tutur wanita yang mengaku mengagumi banyak penulis dunia ini. 

Hal penting lainnya setelah berlatih menulis, adalah menjaga konsistensi. Tak jarang, di tengah proyek sebuah penulisan, Clara merasa buntu. Itu wajar. Ia bahkan mengibaratkannya dirinya sedang sakit.

"Caranya ya diobati, jangan dibiarkan makin lemah dan akhirnya sakit parah," katanya beranalogi. Ia memulihkan mood menulis dengan membaca buku atau menonton film. Dari situ, ia bukan hanya sekadar mendapat ide, tetapi juga punya dorongan untuk kembali menulis. 

Dari sekian banyak penulis di dunia, masing-masing punya tujuan berbeda dalam tulisannya. Pramoedya Ananta Toer misalnya, ia pernah mengungkap tujuannya menulis adalah: agar suaranya tak pernah padam sampai kapanpun.

Berbeda dengan Clara, ia menulis untuk tujuan yang sederhana. Kebahagiaan. 
Karenanya, ia selalu mengawali menulis dengan rasa bahagia. Clara mengaku tak pernah menyematkan misi apapun dalam tulisannya. Ia menulis dengan ringan, bebas, dan rasa bahagia tersebut.

"Saya menulis apa yang saya senang, saya gelisahkan, dan yang ingin saya suarakan. Jadi kayaknya nggak ada ciri khas tertentu ataupun tujuan tertentu. Saya menulis dengan melepaskan beban-beban, bahwa menulis harus seperti ini dan itu. Yang jelas, cerita apapun selalu saya tuliskan dengan gaya fiksi," tegas wanita yang terpilih sebagai 15 most inspired women 2010 versi majalah franchise Amerika: More.

Selain menulis Clara tak memiliki passion lain dalam hidupnya. Menulis saja sudah membuatnya bahagia, sehingga ia tak punya tujuan lain.

"Saya akan menulis sampai nanti mati," ujarnya yakin. Memang, di luar menulis ia tak memiliki pekerja lain. "Selain menulis ya menjadi ibu, dan itu sama sekali tidak mengganggu," ucapnya sambil tersenyum.

Hidupnya memang untuk menulis, tapi ia tidak lantas mewajibkan kedua anaknya menuruni jalan hidup yang sudah dipilihnya. Ia sama sekali tidak mengarahkan anaknya menjadi penulis, atau apapun yang ingin dicapainya. Mereka dibiarkan bebas menjadi apa yang diinginkan. 

Novel populer Clara Ng:

1. Tujuh Musim Setahun - 2002
2. Seri Indiana Chronicle: Blues - 2004
3. Seri Indiana Chronicle: Lipstick - 2005
4. Seri Indiana Chronicle: Bridesmaid - 2005
5. The (Un)Reality Show - 2005
6. Utukki: Sayap Para Dewa - 2006
7. Dimsum Terakhir 2006
8. Tiga Venus -  2007
9. Gerhana Kembar - 2007
10. Tea for Two - 2009
11. Jampi-Jampi Varaiya - 2010
12. Ramuan Drama Cinta - 2011
 
 
Source : VIVALIFE

Wednesday, 5 June 2013

Pandangan Yoris Sebastian Mengenai Lentera Jiwa



Lentera Jiwa - Selamat Tahun Baru 2008
Selasa, 01-01-2008 14:25:33 oleh: Yoris Sebastian


Lama sudah kumencari.. apa yang hendak kulakukan.. segala titik kujelajahi.. tiada satupun kumengerti.. tersesatkah aku? Di samudera hidup…

Kata-kata yang kubaca.. terkadang tak mudah kucerna
Bunga-bunga dan rerumputan… bilakah kau tau jawabnya?

Inikah jalanku..? Inikah takdirku..?  kubiarkan, kumengikuti, suara dalam hati, yang selalu membunyikan cinta.. kupercaya dan kuyakini murninya nurani.. menjadi penunjuk jalanku.. LENTERA JIWAKU


Potongan lirik dari lagu terbaru Nugie diatas menggelitik saya. Terasa tepat, untuk menyambut tahun baru 2008 dengan sebuah pertanyaan.. Inikah jalanku?

Apakah pekerjaan yang kita lakukan sudah sesuai dengan passion yang kita miliki? Banyak yang bilang bahwa bila kita melakukan apa yang kita sukai maka hasilnya akan lebih baik dan lebih maksimal.

Sayangnya kita kebanyakan dibesarkan di suatu kelompok masyarakat yang saat itu mementingkan gelar sarjana dan jurusan-jurusan favorit seperti Kedokteran, Arsitektur, Teknik, Hukum, Akuntansi dan setidaknya Ekonomi Management.

Pemenang olimpiade sains, fisika dan matematika mendapat sambutan hangat di media.  Bahkan banyak teman saya yang rela mengulang 1 tahun waktu SMA agar bisa masuk jurusan IPA atau A1.

Namun setelah menjadi sarjana, banyak sekali yang kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Malah di pertengahan tahun 2007 lalu, saat saya memberikan seminar singkat soal creative entrepreneurship ternyata banyak sekali mahasiswa yang kuliah namun ketika ditanya apakah akan bekerja sesuai dengan bidang yang ditekuninya sekarang jawaban tidak.

Jadi masih banyak yang kuliah demi menyenangkan orang tua bukan demi masa depan.  Beberapa saat lalu, teman saya direktur sebuah perusahaan terkenal di Jakarta berkeluh kesah soal anaknya yang baru lulus kuliah di Australia namun ingin menjadi DJ. “Tidak ada hubungannya dan apakah bisa dia hidup dari nge-DJ?” Pertanyaan yang sulit untuk dijawab, karena waktu yang akan menentukan. DJ Riri yang notabene putra seorang Eileen Rachman (Pemilik Experd Consulting, Penulis kolom mingguan HR di kompas) bisa sukses menjadi DJ.  Tapi intinya untuk fresh graduate menjadi DJ masih bisa dilakukan sambil bekerja sesuai bidang studi yang diambil di Australia, pelan-pelan bila karirnya sebagai DJ makin baik dan stabil baru anak tersebut boleh full time menjadi DJ.  Sebagai orang tua, jangan terus menerus dikasih uang bulanan karena bisa jadi anak tersebut jadi DJ full time.  Minta mereka mandiri dan menunjukkan bahwa hidup dari DJ juga bisa.

Berbeda dengan Om Bob Sadino yang selalu menekankan bahwa untuk menjadi entrepreneur tidak perlu kuliah.  Saya sendiri di berbagai kesempatan, selalu menekankan bahwa saya pribadi sangat percaya bahwa kuliah itu penting. (Saya drop out dari kampus karena karir sedang naik dengan cepat, sehingga bila saya setengah-setengah malah tidak sukses dua-duanya). Namun sebaiknya kuliah sesuai dengan passion kita atau istilah Nugie, sesuai lentera jiwa kita.

Ada juga teman saya yang lahir dari keluarga musisi dan sangat didambakan oleh orang tuanya menjadi musisi juga, padahal ia ingin sekali menjadi dokter. Biarkan dia menjadi dokter. 
Era sekarang secara umum, saya sudah mulai mendengar banyak pasangan muda yang bilang bahwa apapun bidang yang mau diambil anaknya akan mereka support selama dilakukan secara sungguh-sungguh dan maksimal.

Tapi kembali ke kita sendiri, apakah kita sudah bekerja sesuai passion kita?  Awal tahun menjadi saat yang tepat untuk membuat review dari apa yang kita kerjakan sekarang.

Bila yang kita kerjakan di tahun 2007 tidak ada ubahnya dari yang kita lakukan di 2006 dan membuat kita menjadi jenuh, sebenarnya anda dalam posisi loose – loose dengan perusahaan tempat anda bekerja.  Anda rugi karena tidak memiliki kemajuan, sementara perusahaan juga rugi karena kejenuhan biasanya menimbulkan penurunan efektivitas kerja.


Lentera Jiwa Mark Zuckerberg


Punya Facebok gak? Sepertinya pertanyaan itu menjadi hal yang wajar akhir-akhir ini setelah beberapa waktu yang lalu Friendster menjadi situs jaringan pertemanan yang menjadi popular. Siapa sangka situs jaringan pertemanan antar kalangan kampus kemudian bisa menghasilkan ajang pertemanan yang mendunia dan menjadi trend saat ini?

Mungkin ini tadinya tidak pernah diduga oleh Mark Zuckerberg, founder dan pendiri dari Facebook yang sekarang menjadi miliarder termuda di Amerika bahkan di dunia.

Facebook sebenarnya dibuat sebagai situs jaringan pertemanan terbatas pada kalangan kampus pembuatnya, yakni Mark Zuckerberg. Sebagai mahasiswa Harvard University, ia saat itu mencoba membuat satu program yang bisa menghubungkan teman-teman satu kampusnya. Karena itulah, nama situs yang digagas oleh Mark adalah Facebook. Nama ini ia ambil dari buku Facebook, yaitu buku yang biasanya berisi daftar anggota komunitas dalam satu kampus. Pada sejumlah kampus dan sekolah di Amerika Serikat, buku ini diberikan kepada mahasiswa atau staf fakultas yang baru agar bisa lebih mengenal orang lain di kampus bersangkutan.

Pada sekitar tahun 2004, Mark yang memang hobi mengotak-atik program pembuatan website berhasil menulis kode orisinal Facebook dari kamar asrama yang ditinggalinya. Untuk membuat situs ini, ia hanya butuh waktu sekitar dua mingguan. Pria kelahiran Mei 1984 itu lantas mengumumkan situsnya dan menarik rekan-rekannya untuk bergabung. Hanya dalam jangka waktu relatif singkat, sekitar dua minggu, Facebook telah mampu menjaring dua per tiga lebih mahasiswa Harvard sebagai anggota tetap.

Mendapati Facebook mampu menjadi magnet yang kuat untuk menarik banyak orang bergabung, ia memutuskan mengikuti jejak seniornya, Bill Gates, yaitu memilih drop out untuk serius mengerjakan situsnya itu. Bersama tiga rekannya, Andrew McCollum, Dustin Moskovitz, dan Chris Hughes, Mark kemudian membuka keanggotaan Facebook untuk umum.

Mark ternyata tak hanya sekadar nekad. Ia punya banyak alasan untuk lebih memilih serius terhadap Facebook. Mark dan rekannya berhasil membuat Facebook jadi situs jaringan pertemanan yang segera melambung namanya, mengikuti tren Friendster yang juga berkembang kala itu. Tapi, agar punya nilai lebih, Mark pun mengolah Facebook dengan berbagai fitur tambahan yang tidak dipunyai Friendster. Dan sepertinya kelebihan fitur inilah yang membuat Facebook makin digemari. Bahkan kemudian, Friendtster pun latah mengikuti trik-trik dari Facebook. Bayangkan, ada sekitar 9.373 aplikasi yang terbagi dalam 22 kategori yang bisa dipakai untuk menyemarakkan halaman Facebook, mulai chat, game, pesan instan, sampai urusan politik dan berbagai hal lainnya. Hebatnya lagi, sifat keanggotaan situs ini sangat terbuka. Jadi, data yang dibuat tiap orang lebih jelas dibandingkan situs pertemanan lainnya. Hal ini yang membuat orang makin nyaman dengan Facebook untuk mencari teman, baik yang sudah dikenal ataupun mencari kenalan baru di berbagai belahan dunia.

Sejak kemunculan Facebook tahun 2004 silam, anggota terus berkembang pesat. Prosentase kenaikannya melebihi seniornya, Friendster. Situs itu tercatat sudah dikunjungi 60 juta orang dan bahkan Mark Zuckerberg berani menargetkan pada tahun 2008 ini, angka tersebut akan mencapai 200 juta anggota.

Dengan berbagai keunggulan dan jumlah peminat yang luar biasa, Facebook menjadi ‘barang dagangan’ yang laku keras. Tak heran, raksasa software Microsoft pun tertarik meminangnya. Dan, konon, untuk memiliki saham hanya 1,6 persen saja, Microsoft harus mengeluarkan dana tak kurang dari US$ 240 juta. Ini berarti nilai kapitalisasi saham Facebook bisa mencapai US$15 miliar! Tak heran, Mark kemudian dinobatkan sebagai miliarder termuda dalam sejarah yang memulai dari keringatnya sendiri.

Kejelian Mark dalam melihat peluang dan sekaligus menemukan Lentera Jiwanya memang menjadi hal yang luar biasa. Niatnya yang hanya untuk sekedar menyatukan komunitas kampusnya, berbuah manis dan berdampak besar bagi banyak orang.



Lentera Jiwa Martha Tilaar


Dilahirkan dalam keadaan fisik yang tidak begitu sehat, tak kurang tersedia 13 orang dokter yang merawat Martha. Karenanya sejak kecil Martha diajarkan cara untuk menyelesaikan problem oleh ibunya. Dari sistem pendidikan tersebut akhirnya diluar dugaan Martha tumbuh menjadi anak yang sehat.


Tumbuh menjadi perempuan yang tomboy, bandel dan lincah membuat Martha sangat tidak suka merawat diri jika dibandingkan saudara lainnya. Hobi bermain layangan dan berenang di sungai membuat kulit Martha tidak sehat, rambut yang panjang memerah semua, wajah pun tak karuan. Ibunya seringkali menegur mengingatkan Martha agar lebih peduli merawat diri. Apalagi Martha, yang di saat kuliah mengambil Jurusan Sejarah IKIP Negeri Jakarta dan lulus tahun 1963, sebagai seorang guru diingatkan akan sering bertemu dan tampil di hadapan murid-murid. Dengan diantar sang ibu, Martha dipaksa mengikuti les tata kecantikan ke Titi Purwosoenoe. Yang menjadi unik, sejak saat itulah Martha mulai jatuh cinta dan memastikan lentera jiwanya terhadap dunia kecantikan.


Ketika ia mengikuti suaminya tugas belajar di negeri Paman Sam, Martha tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut untuk bisa menambah pengetahuannya tentang dunia kecantikan. Ia pun belajar kecantikan di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, AS. Begitu lulus dari akademi kecantikan Martha segera membuka praktek salon kecantikan di negeri Paman Sam itu. Ia membuat selebaran semacam brosur sederhana, mempromosikan jasa layanan salonnya. Berbagai usaha promosi dilakukan seperti masuk ke kampus-kampus, mendatangi rumah-rumah mantan dosen untuk mendandani para istrinya. Begitu pula kepada mahasiswa-mahasiswa Indonesia, atau ibu-ibu yang mengikuti suaminya tugas di luar negeri. Martha juga menyempatkan diri melamar bekerja sebagai salesgirl produk kosmetika Avon. Setiap sore ia keluar masuk asrama mahasiswa dan mengetuk pintu untuk lalu berteriak lantang, “Avon Calling!”


Ketika kembali ke Indonesia Martha segera ingin membuka salon. Karena belum mempunyai rumah sendiri “Martha Salon” miliknya yang pertama menumpang di garasi rumah orangtuanya, di Menteng, Jakarta Pusat. Di sebuah ruangan berukuran 6×4 meter, Martha Salon ia dirikan persis tanggal 3 Januari 1970. Di sini ia sekaligus membuat pula produk-produk kecantikan dari bahan alam. Sambil memulai penggunaan merek dagang barunya Sariayu Martha Tilaar, merek yang jika diartikan “Sarinya Wong Ayu”.


Perjalanan bisnis Martha Tilaar mengalami jatuh-bangun dalam usaha. Walau sukses dan terkenal di negeri asing, ia justru pernah merasakan sebuah kepahitan di tanah air. Itu terjadi ketika ia hendak menyewa dan membuka gerai jamu dan kosmetika di beberapa mall dan plaza terkemuka di Jakarta, persis di pusat perkantoran dan rumah tinggal kalangan berduit. Ia ditolak menyewa tempat. Karena dianggap produknya tidak memiliki image. Tapi Martha tidak pernah mau menyerah apalagi berputus asa.


Dari situ akhirnya Martha Tilaar mendirikan Puri Ayu Martha Tilaar, sejak Mei 1995, sebagai gerai jamu dan kosmetika Sariayu sekaligus berfungsi sebagai pusat pelayanan konsumen di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Gerai ini lalu berkembang pesat memasuki kota-kota besar lain di Indonesia.


Tidak hanya berhenti disitu, tapi Martha kemudian ingin memberdayakan dan berbuat banyak kepada masyarakat. Ia melahirkan konsep community trade, salah satu bentuk pengembangan masyarakat melalui industri kerajinan, setelah ia melihat kerja keras seorang ibu muda yang berusaha menafkahi keluarganya. Komunitas ini telah berhasil mengumpulkan 142 perajin di Sentolo, Yogyakarta bernama Prama Pratiwi Martha Gallery.


Martha melahirkan konsep community trade bersama rekannya, yang menyediakan segala fasilitas produksi industri kerajinan. Hasilnya sangat memuaskan. Ketekunan para perajin dan tekad mau berkembang membuat mereka cepat berhasil. Produk dari para perajin sebagian besar ditujukan untuk pasar ekspor ke Perancis, Australia, dan Amerika.

Ia pun mendirikan Yayasan Martha Tilaar. Ia mendidik banyak perempuan dan ibu-ibu tentang kecantikan dan bertujuan agar mereka mengerti kecantikan sehingga bisa merawat diri. Namun yang terutama agar mereka mempunyai keterampilan tentang kecantikan, sesuatu yang pernah banyak menolong wanita di saat krisis melanda termasuk pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawan wanita maupun laki-laki di banyak perusahan lain. Bagi Martha Tilaar perempuan adalah pemersatu yang sangat besar perannya bagi keutuhan bangsa. Karena itu ia tak ingin perempuan terbelakang dalam soal pendidikan.


Peraih gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dalam bidang “Fashion and Artistry” dari World University Tuscon, Arizona, AS tahun 1984, ini memulai bisnisnya dari titik nol. Dari sebuah salon kecantikan sederhana, berkembang menjadi Martha Tilaar Group. Dimana usaha ini kini memayungi 11 anak perusahaan dan mempekerjakan sekitar 6.000 karyawan. Dari sebuah kerja keras dan Lentera Jiwa yang selalu bersinar terang, Martha akhirnya sanggup berbagi Lentera Jiwanya kepada ribuan perempuan lainnya.




Lentera Jiwa Bill Gates




William Henry Gates III atau lebih terkenal dengan sebutan Bill Gates, lahir di Seatle,dari seorang pengacara yaitu Bill Gates Jr., dan ibunya, Mary, adalah seorang mantan guru. Bill adalah anak kedua dari tiga bersaudara.

Bill kecil mampu dengan mudah melewati masa sekolah dasar dengan nilai sangat memuaskan, terutama dalam pelajaran IPA dan Matematika. Mengetahui hal ini orang tua Bill, kemudian menyekolahkannya di sebuah sekolah swasta yang terkenal dengan pembinaan akademik yang baik, bernama “Lakeside”. 

Pada saat itu , Lakeside baru saja membeli sebuah komputer, dan dalam waktu seminggu, Bill Gates, Paul Allen dan beberapa siswa lainnya, yang sebagian besar nantinya menjadi programmer pertama Microsoft, sudah menghabiskan semua jam pelajaran komputer untuk satu tahun. Keahlian komputer Bill Gates sudah diakui sejak dia masih bersekolah di Lakeside. Dimulai dengan menjebol komputer sekolah, mengubah jadwal, dan penempatan siswa. Tahun 1968, Bill Gates, Paul Allen, dan dua hackers lainnya disewa oleh Computer Center Corp. untuk menjadi tester sistem keamanan perusahaan tersebut. Sebagai balasan, mereka diberikan kebebasan untuk menggunakan komputer perusahaan.

Kemampuan Bill semakin terasah. Pembuatan program system pembayaran, merupakan bisnis pertamanya. Kemudian bersama Paul Ellen mendirikan perusahaan pertama mereka yang disebut Traf-O-Data. Dimana mereka membuat sebuah komputer kecil yang mampu mengukur aliran lalu lintas. Bekerja di perusahaan kontraktor pertahanan, dan sebagai penanggungjawab komputerisasi jadwal sekolah, melengkapi pengalaman Bill Gates.

Musim gugur 1973, Bill Gates mendaftar di Harvard University dan mengambil jurusan di fakultas hukum sesuai keinginan ayahnya. Bill mampu dengan baik mengikuti kuliah, namun sama seperti ketika di SMA, perhatiannya selalu segera beralih ke komputer.

Ketika ia bosan dengan Harvard, Gates melamar pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan komputer di daerah Boston. Gates mendorong Paul Allen sahabat karibnya untuk mencoba melamar sebagai pembuat program di Honey-well agar keduanya dapat melanjutkan impian mereka untuk mendirikan sebuah perusahaan perangkat lunak.

Sampai pada akhirnya Desember 1974, Bill bersama sahabat karibnya tersebut membaca artikel majalah yang memuat tentang komputer mikro pertama Altair 9090. Mereka kemudian menyadari bahwa era “komputer rumah” akan segera hadir dan meledak, membuat keberadaan software untuk komputer – komputer tersebut sangat dibutuhkan. Dan ini merupakan kesempatan besar bagi mereka.

Dalam beberapa hari, Gates menghubungi perusahaan pembuat Altair, MITS (Micro Instrumentation and Telemetry Systems). Dia mengatakan bahwa dia dan Allen, telah membuat BASIC yang dapat digunakan pada Altair. Tentu saja ini adalah bohong. Bahkan mereka sama sekali belum menulis satu baris kode pun. MITS, yang tidak mengetahui hal ini, sangat tertarik pada BASIC. Dalam waktu 8 minggu BASIC telah siap. Dan walaupun, ini adalah kali pertama bagi Bill dalam mengoperasikan Altair, tidak disangka ternyata BASIC dapat bekerja dengan sempurna.

Setahun kemudian Bill Gates memutuskan untuk meninggalkan Harvard dan akhirnya mendirikan perusahaan “Microsoft” bersama sahabat karibnya. Bersama Microsoft, Bill dapat mewujudkan mimpi-mimpinya untuk memberikan sistem pada komputer rumahan yang user friendly bagi setiap orang. Dan tentu saja, sekaligus menjadi orang terkaya di dunia saat ini. 



Source : Yudhit Ciphardian

JK Rowling dan Lentera Jiwanya


 

JK Rowling sejak kecil ternyata punya cita-cita menjadi penulis. Tapi, mengikuti saran dari orangtuanya, ia belajar Sastra Prancis di Universitas Exeter supaya bisa jadi sekretaris yang mampu bicara dwibahasa. Pekerjaan itu ternyata tidak cocok baginya. Soalnya, bukannya mencatat jalannya rapat, ia malah sibuk mengarang cerita. Akhirnya ia dipecat dan sejak itu ia gonta-ganti pekerjaan.

Pada tahun 1990, dalam perjalanan dari Manchester ke London, kereta yang ditumpanginya mogok selama sekitar empat jam. Dan saat duduk di kereta, sambil memandangi segerombolan sapi melalui jendela, ide tentang kisah Harry Potter muncul di benaknya. Selama beberapa bulan berikutnya Joanne sibuk mengembangkan kisah petualangan penyihir cilik ini. September 1990 ia pindah ke Portugal dan bekerja sebagai guru bahasa Inggris. Disana ia jatuh cinta pada seorang jurnalis televisi bernama Jorge Arantes. Mereka menikah dan tahun 1993, lahirlah putri mereka, Jessica.

Tak lama setelah itu mereka bercerai, dan Joanne balik ke Edinburgh, Skotlandia. Pada masa itu hidup Joanne benar-benar terpuruk, begitu miskin sehingga ke mana-mana ia jalan kaki meski ongkos bus kota murah. Ia sering menulis di kafe, karena flatnya yang sempit dan dingin jelas bukan tempat yang penuh inspirasi. Untung si pemilik kafe baik bati, membiarkan Joanne menulis di sana meski ia cuma memesan secangkir kopi dan segelas air, sementara bayinya tertidur. Tahun 1997 nasibnya berubah total ketika penerbit Inggris, Bloomsbury Press, menerbitkan buku Harry Potter yang pertama Harry Potter and the Philosopher`s Stone (di Amerika terbit dengan judul Harry Pooter and Sorcerer`s Stone). Ternyata buku itu sangat sukses di seluruh dunia, begitu pula buku-buku berikutnya.

JK Rowling. Seorang orang tua tunggal, seorang mantan sekretaris, dan sekarang seorang penulis sukses dengan pocket full of money. Perjuangan yang luar biasa walaupun di dera berbagai macam cobaan tetap terus semangat untuk menyalakan Lentera Jiwanya yang berbuah manis. Bagaimana denganmu?



Lentera Jiwa Eric Chang



Eric Chang adalah salah satu fotografer paling fenomenal di Indonesia. Di usia yang baru 18 tahun, dia sudah memiliki portofolio yang mengagumkan.
Simak cerita Eric di video ini.

"Gue tertarik karena hobi"

"Fokus"

"Saya selalu berdoa kepada Tuhan, supaya saya tahu apa tujuan hidup saya"

Lentera Jiwa Chef Bara



Meski dibesarkan di keluarga diplomat dan menyandang gelar sarjana hubungan internasional, namun Bara Pattiradjawane ternyata menemukan lentera jiwanya di dapur. 
Simak kisah Bara berikut ini.


"Kalau kita mengerjakan sesuatu dengan hati, maka kita akan memberikan yang terbaik"

"Santai aja. Jalanin aja dulu. Nanti pelan-pelan kita akan menemukan sendiri lentera jiwa itu. Kalau kita sudah menemukannya. Tinggal kita pupuk, kita arahin semuanya, fokus kesitu, dan semuanya akan baik-baik aja"

Lentera Jiwa Andy Flores Noya



Siapa yang tidak mengenal pria satu ini?
Wajah kocaknya selalu mengisi tayangan Metro TV di setiap hari Jumat dan Minggu sebagai host sebuah talk show inspiratif Kick Andy.
Mari simak sepak terjang dan kecintaannya kepada jurnalisme dan mengapa lentera jiwa itu sangat penting.

"Lentera jiwaku adalah jurnalisme"
"Saat aku memutuskan masuk ke dalam jurnalistik, aku sangat bahagia"
"Tujuan hidup ini apa sih?! Kita kan mencari kebahagiaan"
"Kalau saja kita sudah menemukan lentera jiwa kita di pekerjaan, efeknya itu biasanya di rumah. Kita  juga akan bahagia di rumah"


Lentera Jiwa vs Cita-cita


"Kok banyak orang yang tidak menjadi seperti apa yang dicita-citakan saat kecil?"

"Sukses butuh proses dan harus mau bayar harga"

"Impian itu bisa dibangun dari ambisi pribadi, inspirasi orang lain, keprihatinan, dan berdasarkan apa yang Tuhan mau"

"Ada banyak cara untuk mengetahui bahwa impian kita berdasarkan apa yang Tuhan mau. Salah satunya yang paling efeadalah dengan berdoa"

"Ciri-ciri suatu impian benar dari Tuhan"
1. Merasa tidak mampu.
2. Jadi berkat bagi orang lain
3. Terbeban
4. Proses akan nyata bahwa yang kita lakukan ada hasilnya
5. Enjoy, senang, dan  bersukacita sekalipun proses yang dijalani begitu sulit
6. Pintu-pintu itu akan terbuka dengan sendirinya.