Wednesday, 5 June 2013

Pandangan Yoris Sebastian Mengenai Lentera Jiwa



Lentera Jiwa - Selamat Tahun Baru 2008
Selasa, 01-01-2008 14:25:33 oleh: Yoris Sebastian


Lama sudah kumencari.. apa yang hendak kulakukan.. segala titik kujelajahi.. tiada satupun kumengerti.. tersesatkah aku? Di samudera hidup…

Kata-kata yang kubaca.. terkadang tak mudah kucerna
Bunga-bunga dan rerumputan… bilakah kau tau jawabnya?

Inikah jalanku..? Inikah takdirku..?  kubiarkan, kumengikuti, suara dalam hati, yang selalu membunyikan cinta.. kupercaya dan kuyakini murninya nurani.. menjadi penunjuk jalanku.. LENTERA JIWAKU


Potongan lirik dari lagu terbaru Nugie diatas menggelitik saya. Terasa tepat, untuk menyambut tahun baru 2008 dengan sebuah pertanyaan.. Inikah jalanku?

Apakah pekerjaan yang kita lakukan sudah sesuai dengan passion yang kita miliki? Banyak yang bilang bahwa bila kita melakukan apa yang kita sukai maka hasilnya akan lebih baik dan lebih maksimal.

Sayangnya kita kebanyakan dibesarkan di suatu kelompok masyarakat yang saat itu mementingkan gelar sarjana dan jurusan-jurusan favorit seperti Kedokteran, Arsitektur, Teknik, Hukum, Akuntansi dan setidaknya Ekonomi Management.

Pemenang olimpiade sains, fisika dan matematika mendapat sambutan hangat di media.  Bahkan banyak teman saya yang rela mengulang 1 tahun waktu SMA agar bisa masuk jurusan IPA atau A1.

Namun setelah menjadi sarjana, banyak sekali yang kesulitan mendapatkan pekerjaan.  Malah di pertengahan tahun 2007 lalu, saat saya memberikan seminar singkat soal creative entrepreneurship ternyata banyak sekali mahasiswa yang kuliah namun ketika ditanya apakah akan bekerja sesuai dengan bidang yang ditekuninya sekarang jawaban tidak.

Jadi masih banyak yang kuliah demi menyenangkan orang tua bukan demi masa depan.  Beberapa saat lalu, teman saya direktur sebuah perusahaan terkenal di Jakarta berkeluh kesah soal anaknya yang baru lulus kuliah di Australia namun ingin menjadi DJ. “Tidak ada hubungannya dan apakah bisa dia hidup dari nge-DJ?” Pertanyaan yang sulit untuk dijawab, karena waktu yang akan menentukan. DJ Riri yang notabene putra seorang Eileen Rachman (Pemilik Experd Consulting, Penulis kolom mingguan HR di kompas) bisa sukses menjadi DJ.  Tapi intinya untuk fresh graduate menjadi DJ masih bisa dilakukan sambil bekerja sesuai bidang studi yang diambil di Australia, pelan-pelan bila karirnya sebagai DJ makin baik dan stabil baru anak tersebut boleh full time menjadi DJ.  Sebagai orang tua, jangan terus menerus dikasih uang bulanan karena bisa jadi anak tersebut jadi DJ full time.  Minta mereka mandiri dan menunjukkan bahwa hidup dari DJ juga bisa.

Berbeda dengan Om Bob Sadino yang selalu menekankan bahwa untuk menjadi entrepreneur tidak perlu kuliah.  Saya sendiri di berbagai kesempatan, selalu menekankan bahwa saya pribadi sangat percaya bahwa kuliah itu penting. (Saya drop out dari kampus karena karir sedang naik dengan cepat, sehingga bila saya setengah-setengah malah tidak sukses dua-duanya). Namun sebaiknya kuliah sesuai dengan passion kita atau istilah Nugie, sesuai lentera jiwa kita.

Ada juga teman saya yang lahir dari keluarga musisi dan sangat didambakan oleh orang tuanya menjadi musisi juga, padahal ia ingin sekali menjadi dokter. Biarkan dia menjadi dokter. 
Era sekarang secara umum, saya sudah mulai mendengar banyak pasangan muda yang bilang bahwa apapun bidang yang mau diambil anaknya akan mereka support selama dilakukan secara sungguh-sungguh dan maksimal.

Tapi kembali ke kita sendiri, apakah kita sudah bekerja sesuai passion kita?  Awal tahun menjadi saat yang tepat untuk membuat review dari apa yang kita kerjakan sekarang.

Bila yang kita kerjakan di tahun 2007 tidak ada ubahnya dari yang kita lakukan di 2006 dan membuat kita menjadi jenuh, sebenarnya anda dalam posisi loose – loose dengan perusahaan tempat anda bekerja.  Anda rugi karena tidak memiliki kemajuan, sementara perusahaan juga rugi karena kejenuhan biasanya menimbulkan penurunan efektivitas kerja.


No comments:

Post a Comment