Wednesday, 5 June 2013

Mengapa Harus Mengikuti Passion??

Banyak orang yang sering bertanya-tanya pada dirinya sendiri mengenai apa yang sebenarnya diinginkan oleh hati kecil.
Banyak orang yang menyesal pada akhirnya dan selalu gelisah karena tidak pernah tahu apa yang diinginkan.
Banyak orang yang selalu menggunakan otak dan tidak sedikitpun menggunakan hati.
Pada akhirnya, ada begitu banyak orang yang tidak pernah sekalipun menjadi dirinya sendiri.

Saya adalah salah satu orang yang pernah mengalami hal di atas.
Pernah ! Dengan kata lain, saat ini saya telah berputar ke arah yang seharusnya.
Sejak masih duduk di bangku SD, saya sudah tahu dimana bakat dan kesukaan saya.
Beranjak SMP, saya semakin yakin bahwa tempat saya adalah di bidang itu.
Melanjutkan ke SMA, saya semakin memperdalam bidang yang saya cinta.
Menjelang kuliah, saya utarakan keinginan saya untuk memperdalam bidang tersebut di tempat yang seharusnya kepada orangtua.
Mereka merestui?
Tidak, mereka sama sekali tidak merestui.
Saya sedih dan benar-benar frustasi saat itu.

Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah di bidang yang tidak saya suka.
Alasan saya memilih jurusan tersebut tidak lain supaya saya bisa diterima di Perguruan Tinggi Negeri.
Saya pun lulus.
Namun kebahagiaan itu tidak sebahagia saat saya mengerjakan hal yang saya cinta.
Selama dua semester saya berjuang untuk menyesuaikan diri dengan pelajaran-pelajaran di perkuliahan, selama itu juga saya tidak pernah merasakan nyawa saya berada dekat dengan tubuh saya.
Saya tidak pernah melibatkan hati di dalam pengerjaannya.
Bagaimana dengan IPK?
Sampai sekarang saya duduk di Semester 6, saya tidak pernah keluar dari jalur 3,0.
Mengapa bisa, padahal saya tidak pernah menikmati perkuliahan???!!
Alasannya hanya ada satu, yakni orangtua saya.
Sekalipun saya tidak pernah menikmati perkuliahan, saya tetaplah seorang anak yang tahu diri.
Jerih lelah mereka akan terbayarkan dengan IP 3 yang saya dapatkan berturut-turut sejak semester 1 hingga semester 5.

Namun sesuatu terjadi di Semester 3.
Ada hempasan yang begitu kencang yang membuat saya tersadar bahwa selama satu tahun saya telah berusaha melupakan mimpi dan cita-cita saya.
Berusaha menjadi orang lain dan seakan lupa dengan setiap mimpi itu.
Saya benar-benar tidak mengenal diri saya selama dua semester itu.
Saya bersyukur untuk hempasan yang begitu menghempaskan saya di semester 3 yang lalu.

Semester 3 adalah semester dimana saya kembali merajut impian saya dari nol.
Saya tidak peduli dengan perkataan orang.
Mereka tidak tahu apa yang saya rasakan.
Saya yang menjalani, bukan mereka.

Perubahan itu terjadi.
Saya seakan naik level.
Dari seorang mahasiswa yang biasa-biasa saja, saya beranjak menjadi mahasiswa yang memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan.
Menjadi mahasiswa yang berbeda.

Mengapa semua bisa terjadi?
Pertama, saya mengikuti suara hati saya.
Kedua, saya tahu bahwa saya bisa membuat sesuatu yang bermanfaat untuk dunia dengan bidang yang saya suka.
Terakhir, saya tidak akan pernah menjadi seperti sekarang jika tidak memulainya kembali.
Saya tidak pernah menyesal dengan keputusan yang saya ambil.

Ada begitu banyak orang yang meremehkan saya.
Ya, saya tahu SENI masih kurang dianggap di Negeri ini.
Beda halnya dengan profesi-profesi seperti dokter, teknisi, peneliti, dan lain sebagainya.
Namun saya tidak peduli.
Bagi saya yang penting adalah berkarya secara berkesinambungan.
Saya tahu resiko yang akan saya hadapi.
Saya akan tetap memilih berkarya di bidang ini, karena hanya di bidang ini, saya bisa merasakan nyawa saya berada dekat dengan tubuh.

Selama hampir dua tahun saya berusaha keluar dari Zona Aman, saya sudah merasakan bagaimana indahnya berkarya.
Beberapa antologi cerpen bersama teman-teman sesama penulis telah terbit sekalipun hanya lewat penerbit Indie.
Menjadi juri atas ribuan cerpen-cerpen indah sudah saya rasakan.
Ada banyak hal yang tidak pernah saya sesali atas pilihan ini dan saya akan tetap berjalan di jalur ini, jalur yang saya cintai.

Sebenarnya saya bukanlah orang pertama yang memilih berjalan di jalur yang disukai.
Sudah ada banyak pendahulu yang membuat saya semakin termotivasi untuk tetap berjalan di jalur yang saya cinta.
Andy Noya, Nugie, Chef Bara, Wahyu Aditya.
Mereka hanya sebagian kecil orang yang telah berhasil dengan lentera jiwa mereka.
Ya, semua ini terjadi karena lentera jiwa, passion, dan gairah.

Dalam blog ini, saya akan menyajikan berbagai pengalaman nyata mengenai suksesnya hidup karena lentera jiwa.
Saya harap, ini akan membantu saudara-saudara semua yang merasa belum bertemu dengan lentera jiwanya dan mungkin masih dalam tahap pencarian.

Just Follow Your Passion.
Ikutilah kemana gairahmu.
Ikutilah kata hatimu, maka semua akan berakhir dengan indah.
Tidak masalah dengan jatuh bangun yang akan dihadapi.
Cobalah untuk beranikan diri.
Saya jamin, tidak akan ada penyesalan atas pilihan berdasarkan kata hati.


Once Again.
Just Follow Your Passion.








No comments:

Post a Comment